Pernah nggak sih, kamu lagi rebahan di kasur tapi pikiran malah muter-muter ke mana-mana? Mikirin chat yang belum dibales, omongan orang tadi siang, sampai skenario buruk yang bahkan belum tentu bakal kejadian. Kalau iya, kamu nggak sendirian—overthinking ini jadi salah satu “kebiasaan” paling umum yang dialami banyak perempuan, apalagi di tengah tuntutan hidup yang makin kompleks. Yuk, kita bahas kenapa ini gampang banget terjadi dan gimana cara menenangkan pikiran yang lagi berisik itu.
Kenapa Perempuan Lebih Rentan Overthinking?
Bukan cuma perasaan doang, banyak studi memang menunjukkan kalau perempuan cenderung lebih sering overthinking dibanding laki-laki. Salah satu alasannya adalah perempuan seringkali memegang banyak peran sekaligus—entah itu soal kerjaan, keluarga, pertemanan, sampai ekspektasi sosial yang kadang nggak realistis. Ditambah lagi, fluktuasi hormon juga bisa memengaruhi mood dan cara otak memproses stres. Wajar kalau pikiran jadi gampang “nyangkut” di satu masalah dan susah move on.
Yang penting untuk diingat: overthinking itu bukan tanda kamu lemah atau kurang bersyukur. Ini cuma respons otak yang lagi berusaha “melindungi” kamu dari hal-hal yang dianggap mengancam, meskipun caranya jadi kebablasan.
Kenali Dulu Triggernya
Sebelum buru-buru cari solusi, coba luangkan waktu sebentar untuk sadari apa sih yang biasanya bikin kamu mulai overthinking. Apakah itu setelah scroll media sosial, sebelum tidur, atau justru pas lagi sendirian tanpa distraksi? Dengan mengenali pola ini, kamu jadi lebih siap untuk “menangkap” pikiran itu sebelum makin liar. Coba catat di notes HP selama seminggu, kapan aja momen overthinking itu muncul—biasanya bakal ketahuan polanya.
Selain waktu dan situasi, coba perhatikan juga siapa atau apa yang paling sering jadi “bahan” overthinking kamu. Ada yang gampang overthinking soal kerjaan, ada juga yang lebih ke urusan hubungan atau masa depan. Kalau kamu udah tahu kategori mana yang paling sering muncul, kamu bisa siapkan strategi yang lebih spesifik, bukan cuma solusi umum yang kadang kurang pas sama akar masalahnya.
Teknik Grounding 5-4-3-2-1 untuk Meredam Pikiran yang Berputar
Salah satu teknik simpel tapi efektif buat “narik” pikiran kembali ke momen sekarang adalah teknik grounding 5-4-3-2-1. Caranya gampang banget: sebutkan 5 hal yang bisa kamu lihat, 4 hal yang bisa kamu sentuh, 3 hal yang bisa kamu dengar, 2 hal yang bisa kamu cium baunya, dan 1 hal yang bisa kamu rasakan (misalnya rasa dari minuman yang lagi kamu pegang). Teknik ini membantu otak beralih dari mode “mikir terus” ke mode “sadar akan sekitar”, yang bikin kecemasan perlahan mereda.
Journaling: Keluarkan Isi Kepala di Atas Kertas
Kadang pikiran yang muter-muter di kepala itu jadi makin berat karena nggak pernah “dikeluarkan”. Coba deh sediakan waktu 10-15 menit sebelum tidur untuk nulis apa aja yang ada di pikiran, tanpa perlu mikirin struktur kalimat atau ejaan yang benar. Anggap aja itu curhat sama diri sendiri di atas kertas. Banyak orang merasa lega setelah journaling karena pikiran yang tadinya berantakan di kepala, jadi lebih terstruktur begitu dituliskan. Kalau mau, kamu juga bisa coba teknik “worry time”—kasih waktu khusus 10 menit buat mikirin kekhawatiran, lalu setelah itu sengaja alihkan fokus ke hal lain.
Kurangi “Kepoin” Media Sosial Sebelum Tidur
Scroll media sosial sebelum tidur memang jadi kebiasaan banyak orang, tapi ini juga salah satu pemicu overthinking yang paling sering diremehkan. Ngelihat highlight hidup orang lain, komentar-komentar yang bikin insecure, atau berita yang bikin cemas, semuanya bisa jadi bahan bakar buat pikiran yang udah capek seharian. Coba mulai bikin batas waktu, misalnya nggak buka media sosial satu jam sebelum tidur, dan gantikan dengan aktivitas yang lebih menenangkan seperti baca buku atau dengerin musik santai.
Kalau susah langsung berhenti total, coba cara pelan-pelan dulu, misalnya taruh HP di luar jangkauan tangan pas mau tidur, atau aktifkan mode “do not disturb” biar notifikasi nggak terus-terusan muncul dan bikin kamu penasaran buat buka lagi.
Bikin Rumah Jadi “Safe Space” yang Bikin Tenang
Lingkungan sekitar ternyata punya pengaruh besar ke kondisi mental kita. Kalau kamarmu berantakan atau suasana rumah terasa “ramai” secara visual, pikiran juga jadi lebih gampang kacau. Coba luangkan waktu buat beres-beres kecil, atur pencahayaan yang lebih lembut, atau tambahkan aroma-aroma yang menenangkan di ruangan favoritmu. Banyak orang merasa lebih rileks kalau ada wangi lavender atau aroma terapi lembut yang menyebar di kamar—suasana yang tenang secara fisik memang bisa membantu pikiran ikut lebih tenang.
Ngomong-ngomong soal bikin ruangan lebih menenangkan, kamu bisa coba pakai reed diffuser aromaterapi kayak Pengharum Ruangan Summerspring 40ml ini, yang praktis ditaruh di kamar atau meja kerja buat bantu ciptakan suasana lebih santai setiap hari.
Kapan Waktunya Cari Bantuan Profesional?
Sesekali overthinking itu wajar, tapi kalau udah mulai mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan dengan orang sekitar dalam waktu yang cukup lama, ini saatnya pertimbangkan untuk cerita ke psikolog atau tenaga profesional lainnya. Nggak ada yang salah dengan minta bantuan—justru itu langkah yang berani dan penuh kesadaran diri. Psikolog bisa bantu kamu cari akar masalah dan kasih strategi yang lebih personal sesuai kondisi kamu.
Penutup
Overthinking memang nggak bisa hilang begitu aja dalam semalam, tapi dengan latihan kecil yang konsisten, kamu bisa pelan-pelan belajar buat lebih “hadir” di momen sekarang dan nggak kebawa arus pikiran yang nggak perlu. Mulai dari hal sederhana kayak grounding, journaling, sampai bikin ruangan di rumah jadi lebih menenangkan, semua langkah kecil ini bisa jadi bekal buat pikiran yang lebih tenang. Yang penting, jangan lupa untuk selalu bersikap baik sama diri sendiri, ya!
Artikel ini memuat tautan afiliasi Shopee. Lihat kebijakan afiliasi kami.